Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
Lewat bahasa dan bahasan yang ringan, buku ini menampilkan bagaimana sebenarnya manusia berpikir, bersikap, dan bertindak, akibat berbagai bias kognitif dan keterlibatan otak, seperti: - fenomena flexing para crazy rich - ada yang menganggap Covid-19 adalah omong kosong - maraknya kubu-kubuan pasca pilpres penulis menjelaskan bagaimana otak dapat menyesatkan dan bagaimana sebenarnya manusia berfikir menurut konsesnsus mutakhir para ilmuwan psikologi. Tak hanya itu, penulispun memberikan kiat meningkatkan kinerja otak dan mengatasi keterbatasan benak.
Islam akhir-akhir ini yang di benak banyak pikiran orang harus berupa imperium, harus berupaya menaklukkan orang lain melalui proses-proses indoktrinasi bahkan pemaksaan, harus dekat dengan kata “kemenangan Islam” atau “kejayaan Islam”, bahkan bagi sebagian orang Islam harus berupa peperangan kabilah-kabilah seperti masa pra-kenabian. Islam seperti itu bukan Islam yang ada dalam imajinasi saya.
“Lah, memang kita selama ini hidup harus selalu pakai itu. Kita nggak pernah dan nggak boleh ke mana-mana memang. Lah masa nggak ke mana-mana kok disuruh kembali. Rumahku itu ya Al-Quran dan As-Sunnah. Lah ngapain aku disuruh kembali kalau aku sudah di dalam rumah? Jangan-jangan justru yang mewanti-wanti itu yang sebenarnya belum kembali?”
Habib Ja’far tak pernah menyangka, seorang Onadio Leonardo bisa menjadi sahabatnya. Dunia mereka begitu berbeda. Habib hidup dalam nuansa religius yang tenang dan teduh. Sementara Onad, ya, hidup di dunia musik, kebisingan malam, dan gemerlap panggung. Menariknya, persahabatan ini tumbuh tanpa saling menghakimi. Onad bahkaan melihat Habib sebagai tetangga muslim yang bisa diajak ngobrol—bukan sebagai tokoh agama yang menggurui. Dari obrolan santai mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan khas anak muda yang sering penasaran: "Kenapa sih dalam Islam banyak yang haram?" "Mengapa umat Muslim menyembah Ka'bah?" Habib menjawab semua itu dengan gaya yang ringan, jenaka, dan tetap mendalam. Buat kamu yang ingin memahami dasar-dasar ajaran Islam dengan cara yang menyenangkan, buku ini jawabannya. Kalau kamu pernah penasaran soal syariat, akidah, atau logika di balik ajaran Islam, buku ini bisa jadi jembatan pemahaman yang menyenangkan. Serius tapi santai. Dalam tapi tetap membumi.