Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
Kazu dan keluarganya tinggal di sebuah rumah tua. Suatu malam, Kazu melihat sesosok gadis keluar dari dalam rumahnya. Dia yakin gadis itu hantu. Namun keesokan paginya, Kazu terkejut saat melihat gadis itu duduk di ruang kelasnya. Dan, meskipun Kazu tidak mengingatnya, semua teman, tetangga, dan keluarganya yakin bahwa mereka sudah mengenal gadis hantu bernama Akari itu selama bertahun-tahun! Saat Kazu mengetahui jalan rumahnya dulu bernama Gang Kuil Kimyo, nama yang artinya menyiratkan bahwa orang mati dapat hidup kembali, Kazu yakin sesuatu yang aneh sedang terjadi. Dia pun menghabiskan musim panasnya untuk menyelidiki teka-teki ini sembari mulai berteman dengan Akari. Namun, segalanya lebih rumit daripada yang dia kira. Sebuah cerita bersambung dari majalah lama muncul. Lalu, peristiwa nyata dan cerbung misterius itu mulai bersinggungan, sementara seorang nenek eksentrik dengan kucing hitamnya mencoba menghalangi langkah Kazu.
Marzio Montecristo, mantan guru matematika dan penggemar berat cerita kriminal, membuka toko buku kecil di Cagliari dengan spesialisasi novel misteri. Toko bukunya bernama “Les Chats Noirs” (kucing hitam), terinspirasi dari dua kucing hitam yang berkunjung ke toko dan sejak itu tidak pernah pergi. Keduanya menjadi daya tarik toko dengan banyak pengikut di Instagram, menyelamatkan toko dari kebangkrutan akibat kejudesan Marzio. Marzio menamai mereka Miss Marple dan Poirot. Les Chats Noirs juga memiliki Klub Buku Detektif Selasa. Geng yang tampak tidak serasi tetapi nyatanya sangat kompak. Bahkan, setahun lalu, Detektif Selasa membantu Angela Dimase, detektif yang juga teman lama Marzio untuk menyelesaikan suatu kasus. Kini, Angela kembali meminta bantuan mereka untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang sangat kejam. Tiga kasus pembunuhan yang tampak acak, tidak meninggalkan banyak bukti, begitu rapi seolah dilakukan oleh hantu. Pelakunya dijuluki “pembunuh jam pasir” karena selalu meninggalkan jam pasir di TKP. Maka, Detektif Selasa berupaya membongkar labirin misteri, di bawah tatapan dua kucing hitam di Toko Buku Les Chats Noir.
Namanya Toko Buku Abadi. Di sana hanya menjual buku-buku bagus yang sudah dikurasi pemiliknya, sepasang suami istri yang sudah senja. Toko buku itu terletak di depan sebuah rumah besar di tepi kota kecil. Rumah peninggalan zaman kolonial, berdiri kokoh, tetapi diam-diam menyimpan banyak cerita tragis. Lalu, segera saja, Toko Buku Abadi disinggahi para bibliophile, omnilegent, tsundoku, kolektor buku langka, abibliophobia, librocubicularist, bibliognost, hingga penulis bestseller dan penerbit idealis. Kunjungan-kunjungan yang meninggalkan utas cerita saling tersambung, dan perlahan membuka sebuah kisah yang sudah lama dilupakan.
Saat menjalani residensi penulis, seorang narator yang tidak disebutkan namanya berfokus pada warna putih untuk menyalurkan rasa sakit batinnya secara kreatif. Melalui kisah-kisah yang liris dan saling berkaitan, dia bergulat dengan tragedi yang menghantui keluarganya, mencoba memahami kematian kakak perempuannya dengan menggunakan warna putih. Mulai dari membayangkan saat pertama kali ibunya memproduksi ASI, hingga menyaksikan salju turun dan merenungkan ketidakkekalan hidup. Dengan ketajaman dan kelembutan yang menakjubkan, The White Book menawarkan eksplorasi berlapis-lapis tentang warna dan ketiadaannya, tentang kegigihan dan kerapuhan jiwa manusia, dan upaya kita untuk merayakan kehidupan baru dari abu kehancuran melalui benda-benda biasa dalam kehidupan sehari-hari.
Grimalkin, seekor kucing intelektual dari era Victoria, harus kehilangan nyawanya gara-gara usia tua sekaligus keracunan timbal. Namun, bukannya segera beristirahat dengan tenang, Grimalkin justru memilih untuk menggunakan delapan nyawanya yang tersisa. Karena, pada dasarnya, kucing memiliki sembilan nyawa: tiga dipakai menetap saja, tiga dipakai berkelana, dan tiga dipakai bersukaria. Maka, bergentayanganlah Grimalkin menuju zaman-zaman yang lebih baru. Ia diberi kesempatan untuk melihat J.M. Barrie si penulis Peter and Wendy, mengintip masa penemuan penisilin, bergabung dengan orang-orang yang berlindung di bunker pada masa Perang Dunia, bahkan ikut perayaan pendaratan manusia di bulan! Namun, selagi menyaksikan hal-hal luar biasa tersebut, tak ada yang lebih dirindukan Grimalkin daripada Eilidh, gadis baik hati yang telah merawatnya sejak bayi. Grimalkin akan selalu mencari jejak-jejak Eilidh, pada zaman dan keadaan apa pun.
Kim Young Hye, seorang perempuan biasa, berubah perilakunya setelah menjadi vegetarian gara-gara diganggu mimpi buruk berkepanjangan. Obsesi menjadi vegetarian ini membuat hubungannya dengan sang suami bermasalah. Namun, obsesi itu berkembang makin ganjil hingga membuahkan beragam kisah mencekam dalam buku ini dan berujung pada peristiwa-peristiwa tak terduga. Lewat novel ini Han Kang menampilkan dirinya sebagai salah satu pengarang terdepan Asia, bahkan dunia, saat ini.
Di Hutan Bellécorce, di celah sebuah pohon ek, Archibald Rubah menjalankan toko bukunya. Di sana, setiap hewan dapat menyimpan buku yang telah ditulisnya dan berharap buku tersebut akan dibeli seorang pembaca. Suatu hari, Ferdinand Tikus Mondok mendatangi toko buku Archibald dengan putus asa karena ingatannya mulai memudar. Ferdinand mencari Memoar dari Dunia Lain yang ditulisnya bertahun-tahun lalu demi mengingat hal-hal yang telah dilakukannya beserta orang-orang yang dicintainya. Sayangnya, seorang pelanggan misterius baru saja membeli buku Ferdinand dan pergi entah ke mana. Dengan bantuan foto-foto lama, Archibald dan Ferdinand melacak jejak si pembeli sekaligus kenangan-kenangan Ferdinand dalam sebuah perjalanan di hutan.
Frankie menjalani kehidupan sederhana sebagai seekor kucing liar yang tinggal di bawah bak mandi di bukit sampah. Namun, hidupnya tak terlalu buruk, dengan hari-hari yang dihabiskan berkeliling desa mencari sesuatu untuk dimakan. Suatu hari, segalanya berubah. Ia bertemu Richard Gold. Richard Gold tidak sedang baik-baik saja. Dia hampir menyerah pada hidupnya ketika seekor kucing kurus duduk di depan jendela, menatapnya penasaran—membuat Gold benar-benar kehilangan fokus. Ketika kucing yang bisa berbicara itu akhirnya pindah ke rumah Gold karena di sana ada televisi besar, tempat tidur yang “sangat” empuk, dan makanan yang selalu tersedia tepat waktu, dimulailah persahabatan aneh antara dua makhluk yang terpinggirkan. Diceritakan dari sudut pandang Frankie si kucing, novel ini merupakan kisah yang menghangatkan hati tentang duka dan pemulihan. Kisah yang juga dikemas cukup jenaka ini menggambarkan kasih sayang yang terbentuk di antara kucing dan manusia. Kasih sayang inilah yang, entah bagaimana, membuat Frankie dan Gold bertahan dalam masa-masa yang sulit.
Seorang penyensor buku pemula berusaha memenuhi tugasnya untuk menemukan berbagai pelanggaran yang membuat buku-buku menjadi tidak layak untuk diterbitkan. Tiga tabu utama yang dilarang untuk disinggung dalam sebuah buku, yaitu yang berkaitan dengan Tuhan, pemerintah, dan seks. Buku-buku yang diperbolehkan beredar adalah yang mengumbar janji manis tentang meraih kesuksesan, kekayaan, cinta, dan kebahagian tanpa usaha nyata. Namun, sebuah buku membuat hidupnya tidak pernah sama lagi. Penyensor buku pemula itu menghafal seluruh kalimat dalam buku tersebut seolah-olah telah membacanya seumur hidup. Ketika dirinya tidak mampu lagi menentukan garis pemisah antara imajinasi dan kenyataan, penyensor buku pemula berusaha untuk tetap berpegang teguh pada Sistem agar tidak membahayakan keluarganya meski jiwanya terasa kosong. Sebagai penjaga permukaan dunia, dia telah tenggelam dalam labirin makna.
Novel Han Kang yang paling menggugah, We Do Not Part bercerita tentang persahabatan antara dua wanita sekaligus menguak babak tersembunyi dalam sejarah Korea. Suatu pagi pada musim dingin, Kyeongha menerima pesan mendesak dari temannya—Inseon, untuk mengunjunginya di sebuah rumah sakit di Seoul. Inseon terluka dalam sebuah kecelakaan, dan memohon kepada Kyeongha untuk kembali ke Pulau Jeju, tempat tinggalnya, untuk menyelamatkan hewan kesayangannya—seekor burung putih bernama Ahma. Badai salju menghantam pulau tersebut saat Kyeongha tiba. Dia harus mencapai rumah Inseon dengan cara apa pun, tetapi angin dingin dan badai salju memperlambatnya begitu malam tiba. Dia bertanya-tanya apakah dia akan tiba tepat waktu untuk menyelamatkan hewan tersebut atau bahkan mampu bertahan dari hawa dingin yang menyelimuti tiap langkahnya. Tersesat dalam badai salju, jalan berliku-liku penuh kegelapan telah menunggunya tanpa terduga. Mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan, We Do Not Part dengan kuat menerangi babak yang terlupakan dalam sejarah Korea. Terkubur selama beberapa dekade dan membawa suara-suara yang hilang pada masa lalu demi menyelamatkannya agar tak terlupakan. Novel ini merupakan kisah cinta mendalam dalam menghadapi kekerasan yang tak mampu dikatakan dan sebuah perayaan kehidupan, betapa pun rapuhnya.