Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
Satu dari sekian personal yang kerap kali membuat manusia resah adalah soal rezeki. Rezeki memang perkara yang sama sekali gaib. Tidak ada seorang pun yang tahu jatah rezeki yang akan dia dapatkan, sekalipun segala bentuk ikhtiar lahir telah dilakukan. Lantaran ketidaktahuan kita akan hal ini, tidak sedikit dari kita kerap kali mengkhawatirkannya secara berlebihan. Padahal, di balik itu semua Allah telah menjamin rezeki bagi setiap hamba-Nya. Dalam mengais rezeki, kita sering kali terlalu jemawa menganggap semua rezeki yang kita dapatkan adalah murni hasil keringat kita. Kita anggap semua itu adalah murni hasil dari usaha yang kita lakukan siang-malam hingga banting tulang dengan keringat bercucuran. Kita merasa seakan-akan dengan segala usaha yang telah kita lakukan adalah segalanya, padahal ternyata sama sekali tidak.
Buku ini disusun untuk mengingatkan kita pada sosok alim penuh karisma itu. Seorang ayah bagi jutaan umat manusia, bukan hanya umat Islam Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Seorang kiai, guru, yang dengan penuh rasa sabar mengajari, menjadi teladan, serta menyejukkan melalui tutur dan tindakan yang lembut penuh kasih sayang. Mengenang Mbah Moen adalah mengenang hari-hari indah penuh hikmah. Beliaulah sosok ulama yang kmil (sempurna), baik secara ilmu pengetahuan, spiritualitas, maupun pengalaman. Dalam tubuhnya mengalir deras DNA kesalehan dari seorang ayah dan ibu pendidik, keduanya berasal dari trah pesantren yang akrab dengan hikmah dan ilmu pengetahuan.
“Dia menatapku dari majalah-majalah, koran-koran, dan layar-layar di kota mana pun aku berada. Itu ayahku dan tidak ada yang tahu, tapi itulah kenyataannya.” Bagaimana sedihnya ditolak ayah sendiri? Getirnya harus merahasiakan fakta bahwa ayahmu salah satu orang paling terkenal di dunia? Seperti sinetron, tapi ini kisah nyata. Lisa Brennan-Jobs, putri sulung Steve Jobs, pencipta merek komputer dan gawai ternama, harus menanggung krisis identitas diri parah selama bertahun-tahun akibat hubungan keluarga yang rumit dan tidak stabil. Chrisann, ibu kandung Lisa, dan Steve Jobs tidak pernah berencana memiliki anak di usia muda. Gaya hidup Chrisann sebagai seorang seniman cenderung bebas dan kondisi ekonominya terbatas. Ketika hubungan Chrisann dan Lisa memburuk, Lisa memutuskan untuk tinggal bersama sang ayah yang kaya raya, tetapi sering bersikap dingin kepadanya. Lisa berusaha keras untuk menjadi anak baik dan berprestasi, demi mencecap kasih sayang sang ayah. Namun Steve Jobs, tetap menjaga jarak dengan putrinya, membuat Lisa kecewa. Terkoyak antara benci dan cinta, Lisa berjuang untuk memahami dan menerima siapa dirinya. Tujuh tahun setelah Steve Jobs tiada akibat kanker pankreas, Lisa menghimpun keberanian untuk berbagi kisah hidupnya yang kontroversial. Inilah Small Fry, kisah Lisa Brennan-Jobs, yang menurut New York Times ditulis dengan “indah sekaligus memilukan”.
Jatuh Cinta kepada-Nya Memaknai Dimensi Spiritual Cinta dan Patah Hati. Seseorang yang tak pernah mencintai, tak akan pernah bisa mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Maka, mencintai hal-hal yang bersifat duniawi menjadi penting sebagai persiapan mencintai Tuhan. Meski cinta kepada manusia ada batasnya, tapi mengajarkan hati untuk berkorban, memberi manfaat, dan hidup bermakna. Jatuh cinta juga berarti siap mengalami kekecewaan dan patah hati dalam perjalanannya, yang jika dirawat dengan benar justru akan menumbuhkan cinta sejati. Karena cinta tidak sekadar relasi antarmanusia, tetapi berakar pada kasih sayang Ilahi yang menyatukan segala sesuatu. Sehingga, cinta tidak hanya menghangatkan jiwa, tetapi juga membersihkan hati dari belenggu duniawi. Jatuh Cinta kepada-Nya adalah perjalanan menuju cinta hakiki, cinta yang mengalir dari hati yang telah melampaui keduniawian. Melalui ajaran-ajaran para sufi dan filsuf yang telah menempuh jalan ini, pembaca diajak merenungkan makna mendalam tentang cinta Ilahi dan langkah-langkah untuk menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Palestina—yang kini dianggap mahakarya dalam genre novel grafis atau jurnalisme komik—masih relevan hingga kini. Buku ini menjadi bukti bahwa tragedi yang menimpa rakyat Palestina telah berlangsung selama puluhan tahun. Buku ini juga menggambarkan ketangguhan rakyat Palestina yang tak mudah menyerah terhadap pendudukan Zionis. Dengan gaya jurnalismenya yang nyeleneh sekaligus menusuk, Joe Sacco tidak hanya menyajikan fakta tentang kekejaman dan kebrutalan Israel, tapi juga menyuguhkan pengalaman autentik dan resiliensi rakyat Palestina di bawah kolonialisme Israel.
Jika Anda membaca Ensiklopedia Islam yang tujuh jilid dan mencari informasi tentang Wali Songo, dijamin tidak akan menemukannya. Itu artinya, pada masa depan--kira-kira 20 tahun ke depan—Wali Songo akan tersingkir dari percaturan akademis karena keberadaan mereka tidak legitimate dalam Ensiklopedia Islam. Wali Songo ke depan akan tersingkir dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang folklore sebagai cerita mitos dan legenda. Anehnya, di dalam Ensiklopedia Islam itu tercantum kisah tiga serangkai haji: Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang sebagai pembawa ajaran Islam (Wahabi) ke Sumatra Barat. Itu berarti, anak cucu Anda kelak akan memiliki pemahaman bahwa Islam baru masuk ke Nusantara pada tahun 1803 Masehi, yaitu sewaktu tiga serangkai haji itu menyebarkan ajaran Wahabi ke Sumatra Barat.
Ada begitu banyak hal baru yang setiap harinya harus kita pelajari. Entah karena tuntutan jenjang karir di pekerjaan, materi atau tugas kuliah yang harus dibaca dan diselesaikan, hingga seminar atau boot camp yang ingin kita ikuti demi meningkatkan skill
Filsafat memang kerap dianggap sebagai disiplin ilmu yang berat dan sukar untuk dipelajari bagi sebagian orang. Akan tetapi, hal itu berhasil dikemas ke dalam bentuk yang berbeda dalam buku Dunia Sophie karya seorang penulis novel dan literatur anak asal Norwegia bernama Jostein Gaarder. Dunia Sophie memberikan bumbu filsafat nonfiksi berwujud fiksi yang dibalut secara menarik juga unik. Novel setebal 800 halaman ini, menjadi salah satu novel filsafat terlaris di dunia, bahkan sudah menempati best seller Internasional dan diterjemahkan ke dalam 60 bahasa, salah satunya bahasa Indonesia Novel ini terdiri dari 36 bab yang membahas terkait sejarah filsafat hingga abad ke-20 melalui tokoh Sophie. Novel ini mempunyai halaman yang tebal, tetapi itu bisa dikatakan terlalu singkat untuk menjelaskan sejarah yang cukup panjang.
Karya klasik yang tak lekang oleh waktu ini bercerita tentang kehidupan empat bersaudari, suatu masa di Concord, Massachusetts. Meg, si Cantik keibuan yang bermimpi menjadi ratu bergaun indah. Jo, si Tomboi yang sangat mencintai buku dan sastra. Beth, si Pendiam yang begitu berbakat memainkan piano. Dan Amy, Michelangelo kecil dengan sketsa-sketsa memukau di kertas gambarnya. Hari-hari mereka sederhana, tapi dilingkupi kehangatan. Walaupun tak pernah luput dari masalah, kesedihan, ketidakpuasan, bahkan pertengkaran, mereka tak pernah berhenti saling mencintai dan teramat bersyukur memiliki satu sama lain. Sang Ibu yang selalu berada di samping mereka memberikan banyak inspirasi dan semangat, sementara bocah laki-laki kaya bernama Laurie, yang ikut serta dalam setiap petualangan keempat gadis itu, membawa keceriaan yang tak tergantikan.