Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
Keindonesiaan dijangkar dan dihayati secara konkret melalui beragam realitas kehidupan sehari-hari yang rutin dan banal. Dalam kehidupan sehari-hari, keindonesiaan ada dalam kejawaan orang Jawa, keminangan orang Minang, keislaman orang Islam, kekristenan orang Kristen, dan seterusnya. Di dalam keseharian inilah keindonesiaan direproduksi secara terus-menerus. Sebagaimana Indonesia yang tak pernah sudah, manusia Indonesia pun tak pernah sudah. Homo Indonesiaensis adalah konsep yang dinamis untuk menangkap kompleksitas hubungan antara identitas lokal dan identitas nasional Indonesia.n
“Kalau mau sampai posisi atas, macam CEO gitu, berapa lama gue mesti kerja? Dan kalau mau jadi entrepreneur gimana gue harus mulai?” Di zaman yang kian terinterkoneksi ini, jalur karier tak lagi harus melewati cara lama yang konvensional dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meraih jabatan puncak atau malah menjadi owner usaha. Ada banyak entrepreneur, CEO, dan pebisnis sukses yang berhasil melejitkan potensi dan karier menuju puncak tanpa menunggu tangga birokrasi yang lamban. Nah, di buku ini, para praktisi karier dan bisnis dari berbagai bidang membagi best practices tentang bagaimana membuat career hacks yang akan mengakselerasi kemampuan dan kariermu. Dapatkan know how tentang: 1. Apa saja kompetensi yang perlu diasah dan dikuasai untuk melesat cepat 2. Bagaimana menggagas dan mengonsep ide usaha atau startup yang potensial 3. Bagaimana menjadi young talents potensial yang menjadi rebutan para headhunter Ditulis berdasarkan pengalaman para CEO, CHRO, business owner, konsultan, dan akademisi dari OneHR Community yang sudah puluhan tahun jatuh bangun di dunia karier dan bisnis, buku ini wajib menjadi bacaan para young talents Indonesia.
Masalahnya, ibu mereka, Shim Sisun sang seniman kontroversial, benci jesa—upacara perkabungan khas Korea. Baginya, upacara itu hanya membebani kaum perempuan sebagai “panitia abadi” jesa. Sepuluh tahun setelah kematian Sisun, putri sulungnya mengusulkan jesa untuk ibunya di Hawaii, perantauan pertama Sisun. Bedanya, sesajen jesa akan diganti dengan benda-benda yang paling mengingatkan setiap mereka kepada Sisun.
Setiap kali lihat rumah berantakan, kamu mengeluh, “Nanti aja deh.” Tapi, makin ditunda makin stres, dan akhirnya … kamu tetap nggak tahu harus mulai dari mana. Ingat ya, berbenah bukan soal gaya, tapi soal kenyamanan. Berbenah itu bukan kerja rodi, tapi soal strategi. Berbenah itu realistis saja—nggak perlu jadi perfeksionis atau punya waktu luang seharian. Sayo Konishi, konsultan berbenah dari Jepang dengan pengalaman lebih dari dua dekade, bakal nemenin kamu untuk bikin rumah jadi lebih nyaman dan hidup lebih tertata. Kamu akan belajar cara memilah, menyimpan barang, dan menata rumah sesuai kebutuhan kamu—bukan standar orang lain. Cocok buat kamu yang ingin hidup praktis, rapi, tapi tetap chill.
Tak lama setelah menjalani hidup sebagai penulis novel, Murakami memutuskan untuk berlari. Saat itu usianya tidak lagi muda, tetapi hasratnya begitu berapi-api. Lari adalah jalan untuk menenangkan pikirannya yang sangat berisik. Dengan berlari pula, ia bisa mengelola segala sakit dan kekecewaan sehingga menjadi lebih kuat. Terlebih lagi, lari menyadarkannya bahwa dia adalah manusia yang lemah belaka.
Wajah Albert Einstein terpampang di sampul majalah Time edisi Juli 1946, lengkap dengan rambut acak-acakan dan ekspresi jenaka yang khas. Di belakangnya, terlukis ledakan disertai tulisan E = mc2. Tak berselang lama, Newsweek melabelinya dengan sebutan The Man Who Started It All. Meski Einstein tidak turut langsung dalam upaya pengembangan senjata nuklir di Proyek Manhattan, kontribusinya dalam memprakarsai penelitian bom atom di Amerika Serikat menjadi citra buruk yang melekat pada dirinya untuk waktu lama. Terlebih pengeboman Hiroshima dan Nagasaki menimbulkan luka yang sangat dalam bagi dunia. Sungguh ironis! Citra tersebut sama sekali tidak mencerminkan diri Einstein seutuhnya. Didorong oleh naluri lama sebagai pendukung pasifisme, ia justru menghabiskan puncak kariernya dengan upaya keras mencegah perang dan penggunaan senjata nuklir. Hal yang menjadikannya dicintai sekaligus dibenci. Jiwa pemberontak dan vokalnya terhadap isu itu tumbuh dari hasratnya atas sebuah dunia di mana ilmu pengetahuan dapat maju dan berkembang bebas dari batasan otoritas dan prasangka sosial. Sejak usia yang muda, ia amat menghargai rasa ingin tahu dan ketakjubannya pada alam semesta, yang akhirnya menjadi motivasi seumur hidupnya. Dalam biografi ini, Walter Isaacson tak hanya membawa kita menyelami pemikiran Einstein, tetapi juga melukiskan sosok manusia di balik status ikon genius.
Tanpa Rencana merupakan karya antologi Dee yang keempat. Tajuk antologi ini dipilih untuk menggambarkan proses kreatif unik Dee saat menuliskan karya-karya di dalamnya. Dee menggarap ide-ide yang tebersit spontan, tak jarang ditulis sekali jadi. Kendati demikian, 18 cerita dalam Tanpa Rencana begitu kaya akan makna dan diperkuat impresinya oleh ilustrasi di halaman-halamannya. Berbagai perenungan mendalam tentang hidup, kematian, kehilangan, penerimaan, dan spiritualitas, kembali berhasil diolah Dee menjadi cerita pendek serta puisi naratif yang renyah, lincah, sekaligus menyentuh.
Lewat bahasa dan bahasan yang ringan, buku ini menampilkan bagaimana sebenarnya manusia berpikir, bersikap, dan bertindak, akibat berbagai bias kognitif dan keterlibatan otak, seperti: - fenomena flexing para crazy rich - ada yang menganggap Covid-19 adalah omong kosong - maraknya kubu-kubuan pasca pilpres penulis menjelaskan bagaimana otak dapat menyesatkan dan bagaimana sebenarnya manusia berfikir menurut konsesnsus mutakhir para ilmuwan psikologi. Tak hanya itu, penulispun memberikan kiat meningkatkan kinerja otak dan mengatasi keterbatasan benak.
Islam akhir-akhir ini yang di benak banyak pikiran orang harus berupa imperium, harus berupaya menaklukkan orang lain melalui proses-proses indoktrinasi bahkan pemaksaan, harus dekat dengan kata “kemenangan Islam” atau “kejayaan Islam”, bahkan bagi sebagian orang Islam harus berupa peperangan kabilah-kabilah seperti masa pra-kenabian. Islam seperti itu bukan Islam yang ada dalam imajinasi saya.