Temukan jendela dunia melalui ribuan koleksi buku kami yang siap menemani perjalanan belajar Anda.
Apa yang terjadi dalam dinamika perpuisian Indonesia? Buku ini menjawabnya dengan luas sekaligus menawarkan paradigma yang luput dari pengamatan dan kajian pakar sebelumnya. Selain membedah beberapa wacana penting dalam perpuisian Indonesia, buku ini pun menelisik cara-cara puisi Indonesia merespons realitas sosial dalam aspek teknis dan ideologisnya. Beberapa istilah kunci tidak luput dari pembahasan, di antaranya puisi liris, puisi magis, puisi realisme sosial Lekra, puisi mbeling, sastra profetik, dan sastra sufisik. Dengan padat dan meyakinkan, ia memberi pembacanya titik-titik pijak perkembangan perpuisian Indonesia, misalnya tentang usaha untuk memadukan unsur-unsur tradisi dan modernitas, yang pada periode 1970-1990-an bergerak menuju sastra sosial keagamaan. Kecenderungan puisi Indonesia dalam merespon realitas sosial pada masa itu mengarah pada dua tipologi, pertama dalam bentuk puisi protes sosial, dan kedua dengan melakukan eksplorasi moralitas melalui sastra transedental atau sufistik, dan sastra profetik.
Sebuah kumpulan cerita hantu tradisional Victoria, legenda dan dongeng tentang orang-orang mistis Irlandia yang telah membuat perjanjian dengan iblis, ditulis oleh Le Fanu dengan nada bahasa sehari-hari, mungkin belum pernah Anda ketahui kecuali jika mengikuti sastra Irlandia. Buku yang diawali sebuah cerita menakutkan tentang gadis muda yang jatuh cinta kepada makhluk supernatural jahat ini, menyajikan deskripsi sangat luar biasa tentang hutan, padang rumput, dan cuaca. Catatan khusus untuk siapa pun yang menemukan dirinya terjebak dalam cerita-cerita pendek Le Fanu: jangan pernah percaya kepada orang bungkuk yang cacat; jangan membuat kesepakatan dengan orang asing yang Anda temui di hutan; dan jika Anda memiliki mimpi yang tampak nyata, mungkin itu memang kenyataan. Sungguh kisah supernatural klasik yang akan membuat Anda merinding!
Saya sudah terbiasa dengannya dan merindukannya ketika dia menjauh pada suatu malam. Saya berjalan ke seluruh penjuru kafe untuk mencarinya. Akhirnya saya menemukannya di salah satu pilar besar di ujung terpisah; dia sedang duduk dengan seorang wanita dari sirkus. —Budak Cinta
Siapakah Pietr si Latvia? Apakah dia seorang pencuri? Seorang pemabuk Rusia di bar kotor? Kapten laut Norwegia yang sudah menikah? Mayat bengkok di kamar mandi kereta api? Atau semua itu memang Pietr si Latvia? Superintenden Maigret, seorang ajun komisaris besar polisi pemberani yang melacak musuh misterius dan jejak mayat tersebut, harus menunggu waktu yang tidak sebentar untuk menemukan jawabannya. Cangklong dan topi…. selamat datang di dunia Superintenden Maigret. Seri novel Maigret pertama karya Simenon yang diterbitkan pada tahun 1930 ini adalah kisah dengan berbagai karakter menarik dan penuh kejutan.
“Aku tahu kamu dari Afganistan. Alur pemikiranku seperti ini: ‘Ini tipe pria dari bidang medis, tapi dengan aura militer. Jelas seorang dokter tentara. Dia baru datang dari negara tropis, karena wajahnya gelap, dan itu bukan warna alami kulitnya, karena pergelangan tangannya cerah. Dia telah mengalami penderitaan dan penyakit, terlihat jelas dari wajahnya yang tirus. Lengan kirinya cedera. Dia memegangnya dengan sikap kaku dan tidak wajar. Di daerah tropis mana seorang dokter tentara Inggris bisa mengalami penderitaan parah dan lengannya terluka? Jelas di Afganistan.’” Diawali dari sebuah pertemuan yang sangat mengesankan, Dokter Watson tanpa ragu mengakui bahwa Sherlock Holmes lebih dari seorang genius berpengetahuan luas, tapi juga memiliki kecermatan luar biasa dalam mengamati apa pun di sekelilingnya. Ini adalah kasus pertama yang dihadapi sepasang detektif dari Baker Street 221B.
“Kau sudah mendengar kisahku tentang Profesor Moriarty.” “Ilmuwan jahat terkenal itu, yang terkenal di kalangan penjahat sebagaimana—” “Aku tersinggung, Watson,” gumam Holmes bernada mencela. “Yang hendak kubilang itu, sebagaimana dia tidak dikenal di kalangan masyarakat umum.” “Luar biasa—sungguh luar biasa!” seru Holmes. “Kau telah mengembangkan sejenis humor licin yang tak terduga, Watson, aku harus mulai berhati-hati. Tetapi menyebut Moriarty sebagai seorang kriminal sama saja kau tengah mencemarkan namanya. Di balik nama itu ada kejayaan dan juga kehebatan. Perencana paling ulung sepanjang masa, dalang dari setiap kejahatan, otak yang mengendalikan dunia bawah tanah—otak yang dapat menentukan bangkit atau runtuhnya negara-negara. Itulah dia.” The Valley of Fear adalah novel Sherlock Holmes keempat sekaligus terakhir karangan Sir Arthur Conan Doyle. Kisah ini pertama kali diterbitkan secara berkala dalam The Strand Magazine antara September 1914 hingga Mei 1915.
Cerita dimulai dengan perkenalan Gibran oleh seorang pria bernama Farris Effandi Karamy, seorang Lebanon kaya yang ternyata menjadi teman ayah Gibran di usia dini. Setelah perkenalan ini, Gibran sering berkunjung ke rumah Farris Effandi. Kemudian Farris Effandi memperkenalkan putri tunggalnya bernama Selma Karamy. Setelah Gibran bertemu Selma, rasa cinta di antara mereka mulai muncul dan tumbuh. Namun takdir tidak merestui keduanya untuk menyatu. Cinta mereka putus ketika pendeta Lebanon melamar Selma untuk keponakan mereka bernama Mansur Bey Galib. Meskipun Selma akan dilamar oleh Mansur Bey Galib, tetapi Gibran tetap setia dan menunggu Selma untuk menemaninya. Mansur Bey Galib tidak ingin melamar Selma karena cinta dan kecantikan yang dimiliki Selma, tetapi karena kekayaan yang dimiliki ayah Selma. Mereka akhirnya menikah, tetapi tidak ada cinta antara Mansur Bey Galib dan Selma Calami. Mansur Bay Galib bahkan ingin ayah Selma mati agar dia bisa mewarisi kekayaannya. Meski sudah menikah, Selma diam-diam masih bertemu Gibran. Pertemuan mereka di kuil menjadi yang terakhir dan Selma meminta Gibran untuk tidak bertemunya lagi. Lima tahun pernikahannya dengan Mansur Bey Galib, Selma akhirnya hamil dan melahirkan seorang putra. Namun sayang, ketika anak laki-laki itu lahir, dia ditakdirkan untuk hidup hanya untuk waktu yang singkat. Tak lama kemudian, Selma menyusul kematian bayinya. Mereka ditempatkan di peti mati dan dikuburkan. Kisah memilukan itu membuat buku Kahlil Gibran Sayap Syap Patah begitu menguras emosi pembacanya, bahkan tidak hanya kisah romantis Selma dan Gibran, tetapi juga romantisasi penderitaan setiap tokohnya.
Perempuan Laut merupakan instrumen relevan untuk menampung satu gagasan yang saya miliki, yang kurang proporsional bila harus disampaikan melalui puisi dan lain-lain. Saya memiliki cinta, dan saya harus menyampaikannya sebagai gagasan utama dalam sebuah karangan. Perempuan Laut, merupakan seri pertama dari trilogi novel. Pada bagian pertama dalam trilogi itu, cinta akan bergerak dan merumuskan dirinya sendiri untuk ditangkap sebagai sebuah debar. Meski cinta yang tersebar itu boleh jadi hanyalah setetes dari lautan yang tak terperi luasnya. Sebagian orang mungkin tidak percaya adanya cinta, sebagian lagi menganggap cinta hanyalah efek dari serangkaian hormon dalam tubuh. Akan tetapi, akan selalu ada orang-orang seperti Usman Arrumy, yang menuangkan cintanya sedemikian rupa dengan tulus ke dalam sebuah kisah kasih klasik.
Mobil apartemen di blok pertama Calle Santa Fe, di jalan yang mengarah ke pemandangan di Plaza San Martín yang lebar di seberangnya. Pada pukul dua pagi, malam bulan Agustus yang dingin berkabut, hanya satu dua kendaraan yang menggeluyur di atas aspal basah mengkilap. Beberapa orang yang berjalan kaki menciptakan siluet- siluet pada latar sunyi di belakang mereka. Mereka ingin bergegas, digebah hawa dingin dan waktu yang sudah larut, tetapi gestur mereka lamban bak para somnambulis Hati mereka dilucuti hasrat untuk pulang. Seorang wanita cantik berdarah Jerman bernama Frida Eidinger ditemukan tewas dalam sebuah lift apartemen di Calle Santa Fe, oleh seorang pria mabuk sehabis dia bersenang-senang di seputaran kota Buenos Aires, Argentina. Semula, pihak berwenang menyangka itu merupakan murni tragedi bunuh diri, namun rupanya Frida Eidinger bukanlah seseorang yang punya motif kuat mengakhiri hidupnya sendiri, bahkan kedatangannya jauh-jauh dari Jerman ternyata menyimpan tujuan tertentu.
Bagi Kiriko, dapur merupakan tempat favorit yang selalu mengingatkannya akan sosok nenek. Sayangnya, dapur menjadi tempat terlarang di kondominium mewah milik keluarga suaminya, Keiichi. Di apartemen itu, Kiriko harus puas dengan berbagai hidangan yang disiapkan suaminya. Meski begitu, Kiriko merindukan masakan sederhana yang dibuat dengan penuh rasa cinta. Diam-diam, Kiriko bekerja sebagai staf dapur di sebuah panti untuk lansia, tempat yang juga memberi suaka bagi dirinya yang tidak bisa memperlihatkan wajahnya. Kiriko selalu merasa paras yang dianugerahkan kepadanya sejak lahir telah membuat hidupnya menderita, sehingga ia pun menarik diri dari pergaulan dan menyembunyikan wajahnya di balik masker dan kacamata. Namun, pertemuannya dengan salah satu penghuni panti paling nyentrik bernama Sajita-san, mengubah hidupnya. Sajita-san mengenalkannya pada izakaya Yabu Hebi, tempat yang menghidangkan sajian yang menghangatkan hatinya.